Senin, 07 Mei 2012

Jejak Petjinan : Melantjong





Minggu, 22 April 2012 
Ok, hari ini dan kemarin Surabaya lagi kebanjiran acara, dan saya kedatangan kawan2 dari YK yang saya sia-siakan keberadaan mereka. Untung naluri bangun pagi saya masih ada, mengingat semalam begadang, jam 8 pagi sudah duduk manis daftar ulang peserta Jejak Petjinan di ARIO. 

Jejak Petjinan : Melantjong 
Wah jumlah peserta sekitar 40 orang dari berbagai kalangan/etnis/usia, saya melihat di barisan paling depan adalah Hayu dan Suparto Brata sedang asjik ngobrol sambil makan snack yang diberikan oleh Ario Memorial Services, Inc--destinasi pertama Melantjong. Dibuka oleh penjelasan mengenai Jejak Petjinan dan Melantjong oleh Maya--founder Jejak Petjinan, mic dioper ke sang pemilik usaha : Ario Karijanto. Sejak tinggal di Surabaya, saya sering melewati ARIO karena satu jalur dengan CCCL--pusat kebudayaan Prancis, tumpukan peti dan mobil jenasah tertata rapih dan hangat, tidak menyeramkan sama sekali, saya sangat penasaran ingin berkunjung ke Ario dan pagi ini saya berada di Ario, yay! Ario Karijanto menjelaskan sejarah perusahaan keluarga yang sudah mencapai 6 generasi, tapi lupa nanya kenapa mereka memilih bisnis pemakaman, bisnis yang masih langka di Indonesia. anak dan menantu Ario : Yohana dan Richard melanjutkan presentasi mereka yang ganyeng mengenai manajemen perusahaan, jujur mereka sangat menarik dan humble saat sharing.

Selanjutnya adalah tur keliling kantor, Ario tidak lebar tapi memanjang ke belakang, Ario sendiri yang menjadi guide kami, ditunjukkan koleksi peti yang dipakai oleh etnis Tionghoa di Indonesia yang harganya tak terbilang karena memakai kayu jati dengan berat sekitar 3 ton. Koleksi peti lainnya: peti impor dari bahan aluminium, peti ukiran dan jepara, dan peti dari kayu partikel--peti yang disumbangkan untuk keluarga miskin. tur di Ario selama 2 jam terasa kurang, saya sangat nyaman disini, kami juga diberi souvenir peti ukuran mini dan handuk, dan yang paling keren adalah Ario menyediakan mobil jenasah sebagai kendaraan tur Melantjong, sadis! 

Destinasi kedua adalah Grha Wismilak, kami naik bis jenasah yang bisa memuat 30 orang lebih, sisanya naik mobil pribadi. Untuk tema Melantjong kali ini adalah bisnis Tionghoa di daerah Darmo, sebenernya satu destinasi ke destinasi lainnya cukup dekat ditempuh dengan berjalan kaki, namun karena pesertanya sebagian adalah orang tua jadi memang cukup riskan, ditambah cuaca di Surabaya yang masih labil. Mmmm naik mobil jenasah rasanya biasa--soalnya kagak ada jenasahnya, tapi kalo dilihat dari luar baru terasa luar biasa kita naik mobil anti-lampu-merah. Grha Wismilak adalah bangunan cagar budaya yang bangunan aslinya adalah dua lantai--bangunan bertingkat mula2 di jalan raya darmo, jadi oleh Wismilak dibangun bangunan pelindung di sekeliling bangunan asli. Setelah mendengarkan sejarah perusahaan Wismilak yang telah berlangsung 3 generasi, kami diantar mengunjungi lantai atas yang masih mempertahankan lantai kayu. Bangunan ini pernah menjadi tempat tinggal dan toko, jadi di lantai atas adalah tempat tinggal pegawai toko. 

Destinasi selanjutnya adalah Finna Gift Soft yang berada di Jalan Raya Darmo, kami berjalan kaki kesana. Finna adalah nama produk kerupuk udang yang terkenal dan begitu kami masuk, pihak Finna sudah siap menyambut dengan beberapa produknya yang diberikan gratis ke kami. Kami disajikan nasi goreng tuna, pillus asam manis, puding, asinan, dan pastinya berbagai macam kerupuk. saya mengambil banyak asinan--seger banget buahnya. Sajian Finna jadi makanan pembuka untuk makan siang kami di Depot Wijaya. Sejauh ini saya puas dengan destinasi karena 3 perusahaan yang kami kunjungi terbilang ramah untuk publik dan menyediakan ruang publik juga (Grha Wismilak sering dijadikan tempat meeting dan pameran, Finna Gift Shop sering dijadikan tempat gathering ibu-ibu arisan). Saya, Hayu, dan beberapa peserta tur berjalan kaki menuju Depot Wijaya yang berada di Jalan Ir. Anwari, sebagian besar naik bis jenasah. 

Menu yang menjadi jatah kami adalah Lontong Cap Go Meh dan es jeruk (saya pesan jeruk panas). Depot Wijaya juga usaha keluarga (entah sudah berapa generasi), tipikal depot di Surabaya, tertutup dan memakai air conditioner. Tanpa lama, Lontong Cap Go Meh sudah duduk manis di meja dan langsung kami sikat, sebelumnya saya barter ke Hayu, ayam kampung, empal, dan oseng-oseng hati berpindah ke piring Hayu, saya dapat sayur rebung dan telur! Wah saya yang jarang makan makanan bercitarasa selalu terharu kalo makan macam gini, kuah santan dan sayur rebung yang didatangkan langsung dari Jombang memang nikmat namun kurang pedas, Hayu bilang malah cenderung manis dan saya mengiyakan. Lontong Cap Go Meh kandas kurang dari 10 menit, ditutup manis dengan jeruk panas. 

Saya, Maya, dan Toni berjalan kaki ke destinasi terakhir kami--Kelenteng Hong San Ko Tee--di Jalan Tjokroaminoto, yang lainnya naik bis jenasah. Sekitar jam 2 siang kami tiba disana, Ibu Yuliani--sang pengurus kelenteng--tiba tidak lama kemudian, saya lagi lagi kagum dengan aura beliau, kharismatik! Kami dihaturkan sejarah dan kegiatan kelenteng yang memang berbeda dari kebanyakan tempat ibadah. Arca Dewi Sri menjadi salah satu keunikan dari kelenteng ini, lainnya adalah slametan setiap 1 Suro, dan memang mereka sangat terbuka dengan umat yang berkeyakinan lain. Kami pun berkeliling kelenteng yang memiliki sekitar 9 ruang penyembahan (yah ada 9 dewa dewi). setelah tur, kejutannya adalah sajian makan sore! alamak, kami makan lagi, yay! Sepanjang tur kami banyak sekali mendapatkan makanan gratis--bukan disediakan oleh Jejak Petjinan namun dari pengelola destinasi yang kami kunjungi, meskipun kami masih pada kenyang, nasi goreng dan bakmi tampak menggoda, kami pun segera makan, nasi gorengnya enak, saya jadi ingat pas makan nasi goreng vegetarian di salah satu vihara di mojokerto setelah mengikuti perayaan waisak, rasanya penuh berkat! 

Ya ampun Melantjong hoki banget, banyak dapat dukungan dari pemilik usaha di wilayah darmo, kami pun kembali ke Ario dengan menumpang 2 mobil jenasah, ya ampun Ario baik banget menyediakan transportasi untuk kami. Begitu kami masuk bis jenasah, hujan turun dengan derasnya, ini kejutan penutup yang juga manis. 

Thanks to Hayu dan Suparto Brata yang menjadi kawan perjalanan yang menyenangkan. Salut untuk kawan2 Jejak Petjinan.

Dari Tribute to Oasis ke Sound After Day



Dari Tribute to Oasis ke Sound After Day

22 April 2012
Selepas Melantjong saya buru-buru (berjalan kaki cepat) ke Cafe & Resto--venue Tribute to Oasis--ingin bertemu anak2 Summer in Vienna. Jam 5 sore tiba disana tapi mereka belum datang, ternyata kendaraan yang mereka tumpangin bannya gembos. Toton--founder SpaceCity--juga baru datang langsung menyiapkan venue, saya meminta sesi singkat ke Toton untuk ngobrol sebentar membahas skena musik surabaya *bergaya jurnalis*. Harrys and the gang datang bersama Rifki--kekasih Eka, sayang saya akan melewatkan penampilan 3 band YK. Aduh baru kali ini saya merasakan tumpukan acara di Surabaya, satu sisi senang karena Surabaya ramai acara, sedih karena akan melewatkan.

Setelah berjalan kaki 1 jam dan tersesat di dalam ITS selama 30 menit, saya menemukan beberapa kawan DKV ITS yang sedang cangkruk di pintu masuk, ternyata Sound After Day #4 diselenggarakan di pintu parkir. anak2 Despro ITS ber-mapping ria, cahaya dan visual yang nyaman. Saat saya tiba, Rainy Days sedang menyajikan tembang2 indie-rock, ada satu yang saya suka tapi lupa judulnya. Lorelei adalah performer selanjutnya, dibantu Yogie menata peralatan dan dengan kekuatan sound 4000watt, megahits Lorelei berkumandang. FYI, saya kenal Phleg karena project ambient-nya: Lorelei. Porn Ikebana melanjutkan ketegangan dengan 3 lagu pop sedih, sesuai dengan singkatan nama acara: SAD. Hetch--band postrock yang baru pertama saya liat pertunjukkannya--mengurangi ketegangan, mungkin karena mereka terlalu tegang saat bermain. Others--band postrock andalan anak2 surabaya--memaksimalkan kemampuan sound dengan meng-cover mogwai dan pastinya komposisi yang mereka buat. Kee... band postrock asal malang menjadi pamungkas Sound After Day #4. Saya melewatkan Robot yang menjadi penampil pertama. alkohol beredar tetapi tidak ada serangan muntahan di sekitar venue seperti yang terjadi tahun lalu, yang penting semangatnya tetap sama.

Sabtu, 28 April 2012

saya dan maina setelah 6 tahun tidak bersua


Dear Maina Sari,
terimakasih telah menjadi kawan baik sejak kita mahasiswa baru
gue bakal kirim kartupos ke Helen Gobel, kalian berdua sangat berarti :D

Surabaya, 28 April 2012
Anitha Silvia

Kamis, 26 April 2012

manic street walkers


MANIC STREET WALKERS
adalah klub pejalan kaki c2o library
http://c2o-library.net/topic/manic-street-walkers/

Absurd, melelahkan, penuh kejutan, dan menyenangkan. Barangkali, seseorang akan menemukan hal-hal tak terduga di sebuah kota, bahkan jika dia tinggal di kota yang sama sepanjang hidupnya, ketika dia berjalan lambat dan memandangnya lewat mata pelancong. (Kharis Junandharu)

Ya, aku suka ada komunitas Manic Street Walker, ngajak orang untuk jalan dan menggunakan trotoar kota dengan semestinya. Badan saya yang tambun ini jadi semakin singset setelah mengikuti beberapa kali event jalan-jalan. Namun yang paling penting, dari Manic Street Walker saya belajar untuk menikmati kota tanpa harus tergesa-gesa :) (Ayos Purwoaji)

Manic Street Walkers membuat kita melihat Surabaya dari sudut pandang yang berbeda. Tidak lagi dari balik kaca kendaraan namun menjalani sendiri sejarah Surabaya. Ada banyak hal menarik dan unik di setiap sudut jalan yang dilewati. (Vassilisa Agatha)

Kota dapat dilihat dari berbagai perspektif manapun. Jurnal BBC pernah mewawancarai para lansia untuk bersaksi tetang pengalaman mereka selama tinggal di kota London. Kota selalu berbeda jika dilihat dari berbagai arah, orang lansia, kaum difabel, anak muda kreatif hingga para tukang becak. Demikian pula, sudah seharusnya Manic Street Walkers ini menawarkan sebuah alternatif cara memandang kota dari perspektif berjalan kaki. Dengan berjalan kaki kita dapat secara detail melihat kondisi masyarakat. Ketika sebuah perkembangan kota semakin pesat, cepat dan ingin berlari terus, Manic Street Walkers berani menawarkan sebuah dunia yang pelan, sehat, kontemplatif namun tetap menghibur...(Hatib Abdul Kadir)

Sehat, seru, silahturahmi dan bikin nagih (Rangga Nasrullah)

Pengalaman menyenangkan! Sebagai penyuka jalan kaki, waktu yang dihabiskan di jalan dengan kebersamaan benar benar tak terlupakan. (Muhammad Ivan Pratama)

Rabu, 18 April 2012

malang : dekat di mata (tidak) jauh di hati

minggu, 15 april 2012

kereta api penataran jam pertama sudah habis, diborong suatu grup, yah terpaksa ngambil jam kedua, 07.35. mata masih ngantuk, tapi milih baca "heidi - johanna spyri" bacaan tepat memperingati perjalanan saya ke kota malang--dataran tinggi. lapar muncul, memang saatnya sarapan, saya ke pasar gubeng beli roti coklat. ferry agusta mengirim kabar dia sudah tiba di stasiun kota malang, wuahh saya lupa mengabarkan keterlambatan saya, akhirnya kami batal berjumpa karena siang ini dia ke singosari. kereta pun berangkat, saya dapat tempat duduk di bagian kanan, lebih apik mengembara pemandangan alam melalui jendela kanan, ditambah saya membaca heidi dengan setting pegunungan di swiss.

kereta tiba 3 jam kemudian di stasiun kota malang baru, langsung menuju loket, berniat membeli tiket pulang, dan gak dapat, semua habis untuk hari ini, yah terpaksa naik bis pulang ke surabaya. keluar stasiun disambut keriuhan acara pertandingan in-line skate tingkat anak-anak yang digelar di jalan kertanegara, saya pun sempat menikmati satu lap, mereka sangat menggemaskan, bahkan ada salah satu peserta yang muntah setelah menyelesaikan lap yang terakhir. setelah melewati gedung kantor walikota malang, saya masuk ke jalan mojopahit, destinasi pertama adalah alun-alun. menjajaki jalan majopahit yang adem dengan jejeran pohon angsana yang memukau, kenyamanan yang sama saat melewati bunderan jalan tugu.

tidak lama saya menemukan papan nama bertuliskan "taman rekreasi kota" wah pasti ramai dengan penduduk lokal nih, saya pun masuk, dan waw menemukan pemandangan sebuah sungai dari atas lereng. taman rekreasi kota berisi kandang2 hewan yang cukup terbengkalai dan pastinya hewan yang tinggal di dalam sangkar adalah stress. ada juga playground, jasa delman dan kuda. ramai pengunjung yang kebanyakan adalah rombongan keluarga, saya menuju pusat keramaian lainnya yaitu kolam renang, tiket masuknya cuma 2500rupiah, kao hari libur 3000rupiah, murah banget, sesuailah dengan tagline-nya "taman rekreasi rakyat". kolam renang pun penuh dengan anak-anak dan orangtua mereka, semuanya terlihat senang, aduh kebayang segarnya air malang, jadi pengen berenang (tapi kapan? rencana berenang bersama opet dan ajeng selalu kandas di jalan).

keluar dari taman rekreasi, melewati jembatan, dan menemukan tumpukan sepeda motor di bahu jalan, pasti ada sesuatu disana, saya menyebrang dan menemukan pendopo yang menjadi bagian dari art centre dewan kesenian malang. sedang ada latihan menari disana, wah ini ruang publik yang potensial meskipun tidak besar dan lumayan terbengkalai, tapi pusat keramaian bukan disana, saya lanjut berjalan masuk ke jalan brawijaya dengan papan bertuliskan "pasar burung". tanpa papan tersebut sudah sangat jelas bahwa sepanjang jalan brawijaya yang tidak terlalu besar dipenuhi oleh sangkar burung dan kicauan burung pastinya. wah meskipun saya pecinta hewan, saya masih terhibur dengan kesibukan manusia-manusia yang berkerumun disana. ternyata tidak hanya pasar burung, tapi juga pet shops, jadi inget charlie. ini pasar burung terheboh yang pernah saya kunjungi, jadi kangen barito.

abis pasar burung saya menemukan pasar bungan, wuahhh ini mah mata saya langsung hijau, adem banget liat tanaman hias yang menyejukkan hati, padahal udara siang ini juga sejuk, sejuknya jadi double. saya pun keliling, keluar masuk stan bunga, merasakan harum tanaman. keluar pasar bunga saya kembali ke pasar burung, menemukan pusat keramaian lainnya, ternyata pasar ikan, saya pun meluncur kesana, disambut bau amis dan becek yang gak bikin jijik. wah, satu komplek pasar hewan yang menarik dengan pemandangan sungai dan sebuah pohon beringin yang besar. saya pun kembali ke jalan mojopahit yang nama awalnya adalah jalan splendid, pantesan di mulut jalan ada splendid inn, dan jalan mojopahit memang splendid! saya melihat kembali ke peta lalu belok kiri masuk jalan mgr sugiyo pranoto, sebelumnya disajikan toko oen, gereja katolik hati kudus yesus, dan malang tourist information centre yang saat itu beroperasional, wah bagus lah karena sering banget menemukan pusat informasi yang tutup.

saya sempat mampir ke jalan mgr sugiyo pranoto gang IV, sebuah gang sempit dengan beberapa rumah kolonial yang cantik, pasti ini kampung lama. kembali menuju alun alun, dan tidak lama saya berada di tengah alun alun yang ramai pengunjung dan penjaja mainan anak, cukup nyaman disini, saya istirahat sebentar sambil makan roti coklat. selain gereja katolik hari kudus yesus, di sekitar alun alun juga ada masjid agung dan mal alun alun. kembali mengamati peta, mencari jalan ke kedai sinau. pertama menelusuri jalan kauman, bertemu seorang gadis gila, dengan ramah dia meminta semua yang saya pake, saya pun hanya tersenyum dan berjanji akan kembali menemuinya, lalu masuk jalan kawi dengan sisi kiri bertumpuk rumah kolonial yang banyak beralih fungsi menjadi area bisnis, di sebelah kanan adalah mal olympic garden dan bertemu dengan jalan raya ijen yang menyajikan rumah2 kolonial yang apik dan perpustakaan kota malang dengan cat tembok yang mencolok mata. saya masuk ke jalan wilis, jalanan lenggang, sejak tadi menemukan tumpukan kendaraan bermotor, wah malang sudah ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor, membuat saya susah menyebrang sembarangan.

terus berjalan sampai pasar buku wilis, saya pun melirik masuk, yah seperti kampung buku tapi koleksi mereka lebih banyak, tapi masih kalah dengan shopping di yogyakarta. dan ternyata kedai sinau tepat berada di depan pasar buku, saya pun langsung menyebrang dan masuk kedalam sebuah ruko dengan banyak buku yang dipajang-dijual. siang itu hanya saya yang penjadi pengunjung, beberapa pengelola kedai sinau sedang santai mengobrol, saya pun langsung melihat deretan punggung buku, menemukan "mirah dari banda - hanna rambe", kebetulan carlos sedang nyari nih buku, saya langsung sms dia, dan dia telpon minta dibelikan. kebanyakan buku yang dijual adalah terbitan indonesia tera, ultimus, kobam, jalasutra, kebanyakan teks bahasa indonesia dan terbitan lama, baguslah jadi referensi yang berbeda. saya pun berkenalan dengan dewi dan nana yang mengelola kedai sinau, ternyata kedai sinau juga ada di jalan bekasi, jakarta, mereka juga menerbitkan buku. selain menjual buku, kedai sinau menjual kopi KW 1, dan sering menjadi tempat perhelatan diskusi buku. puas mengobrol saya pamit melanjutkan perjalanan ke jagrak tengah (JT)--venue pertunjukkan musik grunge yang saya akan datangi.

kali ini gak pake peta, feeling saya ambil jalan gede, melewati tumpukan depot dengan embel2 dempo: "bakso dempo, es dempo, mie ayam dempo". belok kiri masuk ke jalan pahlawan trip, nah baru liat peta dan saya berada di arah yang tepat, ujung jalan pahlawan trip adalah gereja kathedral santa perawan maria dari gunung karmel, lanjut berjalan masuk jalan buring dan wah menemukan trotoar terlebar dan nyaman di kota malang. ya ampun jalan kaki di malang asjik banget ditambah udara yang sejuk,. jalan buring berakhir, belok kiri jalan brigjen slamet riadi, lalu balik kanan jalan basuki rachmat, lalu liat peta, dan saya salah jalan hehhe. seharusnya belok kiri masuk jalan jaksa agung suprapto. melewati rumah sakit umum daerah dr. saiful anwar--pakdhe sunarko pernah dirawat disana, belok kiri masuk jalan patimura. menemukan jalan belakang rsu yang menyajikan deretan depot, saya memang lapar, ya udah mampir dan makan nasi sayur sop plus tempe, lalu cabut ke TJ. sebelum TJ ternyata melewati legipait, wah tempat yang asjik. di TJ sudah banyak yang nongkrong di depan venue, saya langsung membayar HTM 5000rupiah, lalu segera masuk, ya elah di dalam venue lebih sedikit pengunjung ketimbang di luar.

tidak menemukan seorang pun yang saya kenal, sms eko dan oming, eko pun langsung menghampiri saya, memberikan pesanannya "menggapai utopia". info dari eko, arek grunge malang--penyelenggara acara "kami tetap ada!" menyewa cafe ini, jadi semua kursi disingkirkan, tapi berasa datang ke venue yang terbengkalai, tapi tetep asjik. ok, banyak band yang sudah tampil sejak tadi siang, saya tiba di venue sekitar jam 4 sore, oming dan hilmi pun datang, wah senangnya bertemu mereka lagi dengan kondisi yang berbeda (mengingat kejadian tempertantrum yang cukup tidak mengenakkan). ok saya tidak membahas gig-nya, saya tidak mendengarkan grunge, hanya tahu beberapa lagunya nirvana dan pearl jam, dan baru dengerin alice in chains setelah direkomendasiin sama opet. break maghrib, kami keluar, kopidarat dengan aidil anekdot sambil menikmati udara sejuk di perempatan klojen. saya dan oming ikut ke masjid, eko dan hilmi sholat. sharing ke oming mengenai trip jalan kaki yang baru saya lakukan, sharing mengenai buku-buku favorit, dan kami kembali ke venue. pertunjukkan dimulai lagi, lebih gilak yang moshing, saya pun kebelet mau ganti pembalut, tapi udah kebayang toilet yang penuh dengan muntahan, ruangan ini bau arak. yah memang melancong gaya ekstrim saat menstruasi tidak disarankan. memaksakan diri ke toilte, dan benar beberapa tubuh bergelimpangan tak sadarkan diri di depan toilet, dan pas masuk toilte tidak menemukan air bersih setitik pun malah muntahan dan bau kencing yang pastinya tidak disiram.

yah saya pernah merasakan toilet yang lebih parah, jadi ini masih layak untuk ganti pembalut. kembali menemui oming dan hilmi, mengabarkan kekejaman toilet. kami memutuskan untuk ke legipait, meninggalkan eko yang tampak sangat menikmati pertunjukkan. hanya jalan kaki sebentar saya tiba di legipait yang sedang ramai pengunjung (sementara oming dan hilmi naik motor). masih ada satu meja tersisa untuk kami, saya langsung menuju toilet, cuci tangan dengan air yang bersih dan sejuk (pastinya kamar mandinya legi pait bersih dan nyaman). oming memesan teh cinnamon, saya teh limegrass, hilmi teh jahe. tak lama pesanan datang, diantar oleh dikin--pria yang ramah dan hobi bersepeda. kali ini saya dan oming yang saling bertukar cerita, hilmi terlihat tidak bersemangat karena ngantuk dan sariawan. karena oming akan menulis resensi budaya bebas, saya merekomendasikan buku wikipedia revolution, dan sharing tentang budaya bebas karena oming belum selesai membacanya. alfan bergabung di meja sebelah, ok legi pait ini memang nyaman! oming cerita kalau juli besok dia akan residensi penulisan di cemeti, wah suatu prestasi yang ok, saya pun sharing soal banyaknya galeri dan ruang alternatif di yogyakarta. satu hal yang bikin saya sedih adalah kenyataan bahwa saya tidak bergaul di kota sendiri, surabaya. oming sharing dia banyak bergaul (nongkrong) untuk mendapatkan update dan informasi karena majalah sintetik adalah media, maka penting banget mereka berdua bergerak di scene. saya jadi melihat diri saya sendiri, saya jarang sekali nongkrong dengan anak2 surabaya, hanya datang pas event, tidak mengetahui proses berkarya mereka ataupun kendala yang mereka hadapi, saya hanya terima hasil akhirnya saja, menyedihkan. dan saya teringat pesan dari alfan : don't be sorry, be better.

sudah jam 9 malam, saya sampai lupa sms samack, jadinya dia gak bisa gabung karena saya kemalaman kasih kabar, yah semoga lain kali saya bisa cepat berkunjung ke kota ini lagi. memanggil eko via sms untuk acara makan malam, eko datang dan diputuskan makan di depan stasiun. saya nebeng sepeda motor eko, tentu saja oming bersama hilmi. plat motor eko KH, ternyata dia berkampung halaman di sampit dan sukanya nyetrit (julukan oming untuk eko karena eko sering banget hunting makanan jalanan yang murah). kami tiba di sebuah waung lalapan, saya pesan terong dan tempe, hilmi dan oming pesan telur penyet, eko gak makan, katanya udah makan tadi. sambil nunggu pesanan, eko dengan panjang lebar tanpa titik menceritakan pendapatnya mengenai scene musik (pop) surabaya. saya kaget dia tahu detil perkembangan scene musik pop surabaya (saya menebak dia tahu dari alfan). tapi eko begitu berapi-api menanyakan ketidakberlanjutan scene musik (pop) di surabaya, saya pun menjawab dengan tenang bahwa spacecity kembali dengan membuat acara tribute to oasis dan postrock kids surabaya juga bikin event musik postrock di hari yang sama. kami berempat menyudahi pertemuan malam ini dan akan bertemu minggu depan di surabaya untuk pembukan pameran milisi fotokopi.

eko mengantar saya ke terminal arjosari, saya yakin bis masih ada jam segini, sekali lagi saya sangat menyesali bis malang-surabaya tidak 24 jam. dalam perjalanan yang cukup panjang ke arjosari, eko menyatakan kegundahannya mengenai hubungan antar-scene surabaya-malang, berasa kayak hubungan arema-persebaya, wah saya pun tidak terlalu memperhatikan pengamatan eko. tiba di arjosari saya buru-buru masuk dan menemukan bis terkakhir sudah berangkat jam 11 malam, jam tangan digital saya menunjukkan angka 11:16, yah terpaksa menginap (lagi) di arjosari tapi setidaknya kali ini saya tidak akan kedinginan, kostum saya hari ini celana jeans, kaos, sweater, dan topi kupluk. dan ini akan jadi perjalanan pulang dari malang ke surabaya terpanjang dalam sejarah hidup saya.

terimakasih sangat untuk oming dan hilmi yang menerima saya di malang.

Sabtu, 14 April 2012

manic street walkers #9 edisi mengirim kartupos


Manic Street Walkers #9 edisi Mengirim Kartupos

Sabtu, 14 April 2012

Musim panas telah datang, saya dan Lisa yang mengajak 3 kawannya (Obaja, Stephani, Yona) datang tepat waktu di c2o library jam 7 pagi. Kawan-kawan lain sudah mengabarkan keterlambatan mereka, sambil nunggu saya buat sarapan : sandwich ganja. Erlin, Oline, Mirna, dan Kharis menyusul datang, kami lepas landas dari c2o library dengan restu Kathleen dan Charlie. Mirna yang sudah menyimpan peta surabaya di iPod-nya, memberikan pencerahan mengenai rute yang akan kami tempuh, diputuskan melewati Jalan Diponegoro, pilihan yang asjik! Kami bersembilan dengan yakin melangkah meninggalkan Jalan Dr Cipto, masuk ke Jalan Kartini dan bertemu dengan Jalan Diponegoro. Pemandangan yang paling sering para cecunguks bahas ketika melewati Jalan Diponegoro adalah Gedung Setan--gedung favoritnya Antonio Carlos. Dengan jelas kami melihat Gedung Setan yang menjulang sendirian, saya pun mengajak kawan-kawan masuk ke gedung tersebut.

Info dari Antonio Carlos ada 2 gedung yang diberi label "gedung setan", salah satunya gedung yang akan kami masuki di jalan Banyu Urip Wetan IA no 107, satunya lagi adalah gedung milik freemason di Jalan Tunjungan. Kami menuju Gedung Setan melalui pasar kecil yang masih ramai pengunjung, dan tiba di depan Gedung Setan yang merupakan bangunan kolonial 2 lantai seperti villa, ada tulisan "bukan jalan umum", karena kami adalah "turis" maka tetap masuk, gak kenal kata "bukan jalan umum". Ternyata di dalam gedung adalah sebuah kampung, banyak sekat yang menjadi pembatas antar-rumah, yah ini adalah kumpulan rumah yang bernaung di satu atap. kami menuju kumpulan ibu tua, meminta ijin untuk berkeliling. saya berkenalan dengan salah satunya, namanya Liau, marganya The, dia sudah menempati gedung ini sejak tahun 60an, saya juga berkenalan dengan 2 anjingnya : Poppy dan Ipit. Mereka sedang santai-santai duduk di bagian belakang gedung yang dibuat kamar mandi umum dan ruang perawatan kucing (salah satu penghuni mempunyai usaha berjualan kucing), disana juga ada nisan kuburan cina, tapi Liau bilang itu adalah meja sembahyang.

Gedung Setan adalah sebuah rumah peristirahatan seorang Belanda yang kemudian beli oleh seorang Tionghoa dan kemudian dijadikan rumah pengungsian pasca-peristiwa Gestapu. Jadi tidak heran sampai sekarang Gedung Setan ditempati oleh 40 keluarga mayoritas keturunan Tionghoa. julukan Gedung Setan rasanya tidak cocok untuk gedung ini, rasa nyaman muncul setelah beberapa menit kami berada di dalam, ditambah keramahan warga setempat, yah katanya sebutan Gedung Setan untuk melindungi sarang burung walet yang pernah dibudidayakan di dalam gedung tersebut. Kami disarankan untuk ke lantai atas--ruang semacam aula yang dijadikan sebagai gereja, kami menuju tengah gedung dan menemukan tangga kayu yang cukup lebar dan reyot, ok kami siap untuk kejutan selanjutnya! Ada beberapa penghuni yang sedang santai mengobrol di aula yang dijadikan gereja cabang oleh Gereja Pantekosta Pusat Surabaya. Kami mengobrol sebentar dengan Erli salah satu penghuni yang menempati lantai atas, dia dengan ramah menceritakan kegiatan gereja di aula. Wah, saya masih terheran, fenomena yang asing, 40 keluarga berkumpul bersama di bawah satu atap, dan mereka terlihat nyaman. Julukan Gedung Setan sudah tidak relevan lagi, ini Gedung Tuhan. Kami pamit dan kembali berjalan kaki menuju Pasar Kembang, panas Surabaya kami rasakan kembali.

Jalan menuju Pasar Kembang menyajikan deretan toko kelontong, restoran, toko obat yang berumur puluhan tahun. Begitu masuk Pasar Kembang yang hanya menjual kembang untuk ziarah ditambah sembilan kebutuhan pokok, kami berharap menemukan bioskop, ternyata spanduk "film diputer seperti biasa" sudah tidak bertengger, saya bertanya ke salah satu pedagang mengenai keberadaan bioskop, dia menyuruh saya ke lantai atas. Kami menemukan tumpukan stan dan meja, tidak ada bioskop, malah ruang terbuka dengan white screen dan proyektor, wah ruang nonton bersama! Saya langsung bertanya ke seorang pria muda yang sedang duduk santai sambil merokok, pasti dia warkamsi. Namanya Joko, dia menginfokan bahwa bioskop sudah tutup sejak lama, sekarang dijadikan ruang nonton bersama yang sekaligus menjadi pusat jajan pasar yang beroperasional jam 3 pagi sampai jam 6 pagi, waw. Saya dan Erlin tersenyum, kami menemukan ruang publik lainnya! Kapan-kapan harus mampir kesini, beli jajan pasar pagi-pagi buta sambil nonton bola. Kami melanjutkan perjalanan, kembali menemukan teriknya matahari, musim panas benar-benar sudah datang.

Kami memasuki Jalan Kedungdoro dengan banyak toko onderdil kendaraan bermotor, kami sempat berhenti di kumpulan pedagang kaki lima yang berjualan di trotoar, salah satu pedagang memperkenalkan kami dengan seorang pria yang sedang bersantai sambil merokok, namanya Seputro, lahir dan hidup di Surabaya, dan berusia 104 tahun, rada gak percaya sih sama umurnya, tapi memang dia sangat tua tapi masih bisa merokok dan duduk santai, pedagang lainnya meyakinkan kami bahwa memang usianya 100 tahun lebih! Kami masuk Jalan Blauran, saya mengajak mampir ke Pasar Blauran, kami membeli jajan pasar yang sangat menggoda : pukis dan cucur, harganya terbilang tidak murah, per biji 1500 rupiah, tapi enak, saya beli pukis gula merah, manisnya gak enek, dan lembut. Oline membeli gembus dan sukun goreng, rasanya juga sip (saya ikut icip-icip). Kami memasuki Jalan Bubutan, awalnya Manic Street Walkers edisi kali ini akan menjelajahi Kampung Bubutan sebelum mencapai destinasi terakhir--Kantorpos Kebonrojo, tapi kami sudah cukup banyak kejutan hari ini, maka Kampung Bubutan kami simpan untuk Manic Street Walkers selanjutnya.

Kami sudah tiba di Tugu Pahlawan, dan berjalan di trotoar yang lebar dan nyaman namun sepi, wuahh gak asjik. Kami disuguhi bangunan-bangunan kolonial yang menyenangkan mata, terutama kantor gubernur Jawa Timur, dengan menara jam yang masih aktif, love it. Maaf untuk Tugu Pahlawan, kami (lebih tepatnya saya) tidak tertarik. Di ujung trotoar, terlihat kantorpos Kebonrojo, yay kami sampai di tujuan akhir. Saya sukak dengan langit-langit gedung kantorpos Kebonrojo, klasik. Gedung kantorpos yang berada di Jalan Kebonrojo adalah bangunan kolonial yang sempat dijadikan tempat tinggal regent Surabaya, lalu HBS. Kami langsung membeli perangko dan duduk santai menulis kartupos. Saya mengirim kartupos untuk kakak tercinta Linda Theresia, dan dua kawan Eko Cahyono dan Aprizal. Kami nyaman beristirahat di dalam kantorpos yang siang itu cukup lenggang, yah mungkin karena ini hari Sabtu, FYI hari Minggu kantorpos Kebonrojo tutup. Kharis melontarkan lelucon "ini tahun 2012 dan kita masih berjalan kaki dan mengirim kartupos".

foto oleh erlin goentoro

Jumat, 13 April 2012

nasi pecel tuan BG

kamis, 12 April 2012

sebagai salah satu bukti ketertinggalan saya dalam dunia per-cult-an, siang tadi baru menemukan http://jajalableculinary.blogspot.com/ penemuan tersebut terjadi setelah saya terhubung kembali dengan rega ayundya putri--salah satu kontributor dalam blog tersebut. membaca banyak postingan mereka terutama tulisannya adyth disasterhead, isha hening, dan rega yang bikin saya nangis terharu ngakak, buset ini review kuliner yang paling asjik! saya pun tergoda ikutan bikin review kuliner! karena malam ini cukup emosional (yah setiap saat sebenernya saya emosional) saya memutuskan untuk makan (demi menghemat saya jarang banget makan malam, saya juga gak merasa lapar). saya berjalan kaki pulang dari c2o library dan tiba di alfamart depan kampus b airlangga pukul 22.50, sayang pecel langganan saya belum keliatan pucuk hidungnya, hehe emang sih dia baru buka jam 11-an, malah awalnya buka setelah jam 12 malam setelah apotik di sebelah alfamart tutup. mungkin karena tuntutan pelanggan, tuan BG--pengusaha nasi pecel--membuka lapaknya lebih awal, dia bergeser 5 meter ke kiri, menduduki halaman toko kelontong yang sudah tutup sejak jam 9 malam. saya tetap tenang (kan dari tadi emosian) setidaknya makan es krim magnum beli di alfamart sebagai supper. es krim magnum berasa mengecil sejak kemunculan pertama, tapi tetep enak, ya udah saya makan es krim sambil jalan kaki pulang ke kost. eh ternyata tuan BG baru tiba, sedang parkir gerobak motornya di halaman toko, saya pun semangat menyapa, dan siap menjadi pelaris hehhehe.


kenapa nasi pecel?

sepanjang hidup saya di pulau jawa, makanan andalan adalah nasi pecel, karedok, dan gado-gado, yah karena murah, enak, dan sehat (inget ya murah no 1 dan saya adalah sok locto-ovo vegetarian). pedagang kaki lima favorit saya yang berjaja di daerah kostan adalah nasi pecel madiun, bakmi jawa (bakmi dengan banyak tauge), dan nasi pecel ponorogo--usahanya tuan BG. kalo merasa lapar saat malam (ingat saya jarang makan malam) yang paling sering saya pilih adalah pecel madiun, kalo merasa lapar diatas jam 12 malam (biasanya pas begadang waktu jaman masih jadi kelas pekerja, begadang mengerjakan projek senang-senang tapi susah) nasi pecel ponorogo jadi pilihan, kalo bakmi jawa biasanya kalo lagi kangen saja.


nasi pecel tuan BG

sambil menunggu tuan BG selesai mempersiapkan warung dadakannya, saya menyantap lahap es krim magnum sambil membaca kata pengantar buku virus setan yang merupakan fragmen pemikiran slamet abdul sjukur, tiba-tiba (yah gak tiba-tiba emang sudah jalannya) ada yang manggil saya : tinta! saya menoleh, ternyata phleg dengan sepeda motor dan arum melewati saya, saya hanya sempat mengangguk karena phleg tidak berhenti padahal saya memang lagi butuh ngobrol sama phleg bahas indonesian netlabel union fest, tapi yah pastinya dia gak akan berhenti, lebih baik menghabiskan waktu dengan arum ketimbang sama saya (ya iyalah arum kan pacarnya!) tuh kan saya emosian! es krim magnum secara kilat habis, sementara satu halaman virus setan belum selesai, fokus ke es krim! es krim tandas, pesanan saya siap disantap! saya pilih nasi pecel dengan tahu dan tempe goreng yang tingkat ketebalannya seperti kesabaran saya--tipis banget. pastinya dengan tambahan peyek kacang, nasi pecel siap disantap!

pecel ponorogo ala tuan BG memakai sayuran tauge, kangkung, dan kembang turi yang direbus, sambal kacangnya cukup pedas, sebenernya rasa pecelnya biasa saja, peyek kacangnya atos, tapi diselamatkan oleh nasi putih yang hangat dan nyaman! bahas dikit soal nasi pecel (yah sebenernya saya hanya tahu sedikit soal nasi pecel), nasi pecel di jawa timur itu beragam banget, ada nasi pecel kediri, nasi pecel madiun, nasi pecel gunung kawi, nasi pecel rawon (nasi pecel yang dikasih kuah rawon), nasi pecel blitar (kesukaan saya, saya kasih 2 jempol), dan nasi pecel di tiap kabupaten/kota di jawa timur itu berbeda dari rasa sambal kacangnya sampai komposisi sayur-mayurnya. nasi pecel ala tuan BG habis tak bersisa dalam satu putaran lagu cherrybell yang sering saya dengar tapi saya gak tau judulnya, tuan BG memasang radio sebagai pemanis suasana, yah manis lah daripada dengerin suara knalpot para pemuda yang sering trek-trekan di jalan darmawangsa. setelah membayar tagihan sebesar 4000 rupiah (saya gak pake minum, selalu siap bawa air putih di dalam botol *irit*) dan mengobrol sejenak dengan tuan BG, saya pun melenggang kekenyangan ke kost, mendambakan minum teh hijau segera! dan pipis (kebelet banget!)

karena gak ada foto nasi pecel-nya, review kuliner ini gak sah!